Panglima TNI Gatot Nurmantyo ditolak masuk ke Amerika Serikat

2019-05-22 09:48:17 宾箧笕 26
2017年10月22日下午5点10分发布
2017年10月22日下午5:10更新

ORASI。 Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan Orasi Kebangsaan di Universitas Serang Raya(Unsera)di Serang,Banten,Kamis,9月14日。 Foto oleh Asep Fathulrahman / ANTARA

ORASI。 Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan Orasi Kebangsaan di Universitas Serang Raya(Unsera)di Serang,Banten,Kamis,9月14日。 Foto oleh Asep Fathulrahman / ANTARA

雅加达,印度尼西亚(更新) - Kabar mengejutkan kembali datang dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo。 Ia ditolak masuk ke Amerika Serikat pada Sabtu,21 Oktober kemarin。

Tidak diketahui dengan jelas alasan Pemerintah Amerika Serikat menolak masuk Gatot,kendati mereka memiliki kewenangan tersebut。 Tetapi,mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu sudah mengantongi visa untuk bisa menjejakan kaki ke Negeri Paman Sam。

Rencananya Gatot yang didampingi istri akan menghadiri undangan pimpinan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat,Jenderal Joseph F. Durford,Jr di Washington DC pada 23-24 Oktober mendatang。 Tetapi,begitu tiba di Bandara Soekarno Hatta kemarin,ia baru mengetahui dari petugas maskapai Emirates Air bahwa ia ditolak masuk。

Rappler mencoba mengonfirmasi ke Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto namun belum berhasil。 Konfirmasi hanya diperoleh dari Kementerian Luar Negeri。

Gatot diketahui sudah melaporkan insiden penolakan ini kepada Presiden Joko“Jokowi”Widodo,Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menkopolhukam Wiranto。 Rencananya,Retno akan memanggil Wakil Dubes AS di Jakarta Brian McFeeters,lantaran Dubes Joseph Donovan sedang tidak berada di Jakarta。

“KBRI华盛顿特区telah mengirim nota Diplotik kepada Kemlu AS untuk meminta klarifikasi terkait kejadian kemarin,”ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir。

McFeeters,kata Arrmanatha,akan dipanggil ke Kemlu pada Senin esok untuk memberikan keterangan。

Permintaan cekal tidak datang dari imigrasi印度尼西亚

Sementara,Kabag Humas Dirjen Imigrasi Agung Sampurno menegaskan tidak ada permintaan cekal dari instansi mana pun di Indonesia kepada Gatot。 Jadi,jika ada yang menolak masuk,maka permintaan itu datangnya dari pihak Amerika Serikat。 Kendati begitu,Agung tidak menampik bahwa tidak ada nama Gatot yang masuk dalam perlintasan udara menuju ke Negeri Paman Sam。

Agung juga tidak mendapat notifikasi adanya nama Gatot di dalam red notice of Interpol。 Oleh sebab itu,satu-satunya instansi yang dapat mengklarifikasi hal ini adalah Kementerian Luar Negeri。

“Sebab,Kemlu memiliki jalur diplomatik untuk menanyakan hal tersebut kepada Kedutaan AS di Jakarta dan mitra mereka di Deplu AS,”ujar Agung yang dihubungi Rappler pada Minggu sore,22 Oktober。

Ia turut menjelaskan kendati Gatot sudah diundang oleh Pemerintah AS,tetap saja ia bisa ditolak masuk。 Sebab,untuk bisa masuk ke satu negara,maka seseorang harus membutuhkan paspor,visa sebagai izin masuk dan izin mendarat。

“Izin mendarat ini akan diberikan oleh pejabat ketika seseorang tiba di negara yang dituju.Izin tersebut diberikan bersamaan ketika paspornya dicap,”kata dia。

Atau jika paspornya sudah elektronik,maka akan terekam ketika paspornya dipindai di gate di bandara。 Ketika pintu otomatis itu terbuka,maka seseorang sudah mendapatkan izin mendarat。

Agung pun menjelaskan imigrasi memiliki beragam alasan untuk memberikan atau tidak memberikan izin landing kepada seseorang。 Mulai dari alasan politik,keamanan atau alasan lainnya。

“Itu tidak perlu diumumkan,bahkan ke orang yang akan dilarang masuk ke negara itu.Dalam teori hukum internasional disebutnya sebagai 绝对主权,” tutur dia。

Hal penting yang disampaikan oleh agung yakni petugas maskapai bisa bertanya kepada liason officer imigrasi suatu negara yang berada di Jakarta apakah seseorang diizinkan masuk ke negara itu atau tidak。 Jika tidak mendapat izin,maka mereka berhak menolak untuk mengangkut penumpang yang bersangkutan。

“Sebab,jika dilanggar,maka maskapai yang bersangkutan akan didenda cukup besar dan wajib memulangkan saat itu juga,”kata dia。

Tetapi,Agung meminta agar semua permasalahan ini turut mendapat klarifikasi dari pihak Mabes TNI。 - dengan laporan Santi Dewi / Rappler.com