利马kasus pembohongan杨mengecewakan publik

2019-05-22 05:08:20 夹谷铳亲 26
2017年10月10日上午10:02发布
更新时间:2017年10月10日上午10:02

Ilmuwan Dwi Hartanto menjadi perbincangan publik karena telah berbohong mengenai pencapaiannya saat kuliah di Belanda。 Foto diambil dari屏幕截图Youtube节目Mata Najwa

Ilmuwan Dwi Hartanto menjadi perbincangan publik karena telah berbohong mengenai pencapaiannya saat kuliah di Belanda。 Foto diambil dari屏幕截图Youtube节目Mata Najwa

印度尼西亚雅加达 - Dwi Hartanto akhirnya mengakui kebohongannya secara terbuka。 Mahasiswa doktoral di Technisse Universiteit Delft Belanda ini mengakui jika selama ini ia telah berbohong tentang prestasinya yang mentereng di bidang antariksa。

“Saya mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi yang tidak benar terkait dengan pribadi,kompetensi,dan prestasi saya,”kata Dwi dalam surat bermaterai yang dipublikasikan PPI Delf akhir pekan lalu。

Terungkapnya kebohongan Dwi ini cukup mengejutkan。 Sebab,ia adalah seorang ilmuwan yang semestinya bersikap jujur。 Tak hanya itu,kebohongan itu juga telah berlangsung selama bertahun-tahun。

Tak mengejutkan jika publik kemudian terhenyak。 Dwi Hartanto双关语menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir。 Namun ternyata ini bukan kasus pertama yang pernah terjadi。

Berikut lima kasus pembohongan publik yang pernah terjadi di Indonesia,termasuk kasus Dwi Hartanto:

1。 Plagiarisme disertasi lima pejabat Sulawesi Tenggara

Tim Evaluasi Kinerja Akademik(EKA)dari Kementerian Riset dan Teknologi(Kemenristek Dikti)menemukan kasus plagiarisme disertasi yang terkait dengan lima pejabat negeri dari Sulawesi Tenggara pada 2017年9月9日。

Kelimanya sempat melakukan program doktoral Pascasarjana di Universitas Negeri Jakarta(UNJ)。 丹mengenyam jurusan Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia angkatan 2014年。

Mereka mengindikasikan bahwa Nur Alam,Gubernur nonaktif Sulawesi Tenggara yang terlibat korupsi penyalahgunaan wewenang pemberian izin pertambangan nikel periode 2009-2014,juga melakukan plagiasi。

Hal tersebut diikuti dengan temuan plagiasi pada keempat pejabat bawahan Nur Alam,yakni Hado Hasina(Kepala Dinas Perhubungan),Muhammad Nasir Andi Baso(Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah),Nur Endang Abbas(Kepala Badan Kepegawaian Daerah)dan Sarifuddin Safaa(Asisten I Sekretariat) Provinsi)。

Tak tanggung-tanggung,saat wisuda,Muhammas Nasir Andi Baso dinobatkan sebagai wisudawan terbaik。 Hal ini memuat pujian dari berbagai pihak。

Namun pujian dan kebanggaan tersebut tak bertahan lama,karena kemudian indikasi plagiarisme tersebut terkuak。 Konsekuensinya,Rektor UNJ,Djaali diberhentikan sementara oleh Menteri Riset,Teknologi dan Pendidikan Tinggi,Mohammad Nasir。

Posisi rektor UNJ kemudian digantikan oleh Pejabat Pelaksana Harian Rektor UNJ,Intan Ahmad。 Menurut Sekretaris Jenderal Kemenristek Dikti,jika terbukti bersalah,Djaali akan dicopot dari jabatannya secara permanen。

2. Plagiarisme tulisan di laman facebook Afi Nahiya

Nama Afi Nahiya,再婚asal Banyuwangi ini,sempat病毒di kalangan warganet。 Lantaran pada usianya yang masih tergolong muda,ia mampu membuat tulisan berjudul“warisan”di laman Facebook-nya。 Tulisan ini menuai响应yang postif dari warganet,karena kecerdasannya dalam menguraikan masalah。

Sejak itu ia banyak diundang menjadi pembicara di beragam forum diskusi hingga dipanggil oleh Presiden Joko Widodo。 Sayangnya,Afi diduga tersandung kasus plagiarisme。 Namun permintaan maaf yang hanya sekali,bukan berarti Afi melakukan plagiarisme hanya sekali。

Setelah dicemooh dan mendapatkan kecaman keras dari warganet,Afi malah semakin menjadi-jadi。 Ia menulis empat hasil tulisannya di laman facebooknya dan blog pribadinya。 Keempat tulisan tersebut berjudul Belas Kasih Dalam Agama Kita,Media Sosial Bagai Warung Makan,Agama Facebook dan puisi Pernahkah Kau。

Keempat tulisan tersebut menjadi bumerang untuk dirinya sendiri,lantaran Afi sejak saat itu kerap mendapatkan pesan-pesan bernada sinis dan mengancam。 Terakhir,Afi sempat meminta maaf untuk kedua kalinya dalam sebuah tulisan这是我的道歉lewat laman Facebook-nya。

Dalam tulisan itu ia menuturkan bagaimana ia mengaku kesalahannya dan menceritakan secara detail tekanan yang ia terima akibat tulisan-tulisannya yang ia unggah di media sosial。 Ia mengaku juga bahwa telah mencatut beberapa paragraf dari tulisan Mita Handayani dan beberapa orang lainnya。

3. Eko Ramaditya Adikara berbohong menjadi komposer game Jepang

Seorang博主tunanetra,Eko Ramaditya Adikara,mengaku bahwa ia berbohong mengenai prestasinya terkait dengan pembuatan sejumlah musik untuk game Jepang。 Kebohongan ini akhirnya terendus dari sebuah situs game yang bernama Kotakgame.com。

Sebelumnya,ia sempat mengaku bahwa ia adalah seorang komposer asli musik game Jepang yang ternama。 游戏tersebut adalah超级马里奥银河,Xenogears dan FF起源。 Padahal,ia hanya mengganti ulang judul dari musik-musik game tersebut。

论坛diskusi在线yang berisi游戏玩家mulai menaruh curiga dengan klaim Eko,mereka kemudian menelusuri klaim tersebut melalui dunia maya。 Pada akhirnya mereka menemukan bahwa musik tersebut adalah jiplakan dari musik yang memang sudah lama beredar。

Pada 10 Agustus 2010,akhirnya Rama mengakui kesalahan dan memberikan surat klarifikasi yang disertai dengan materai。 Ironisnya,ia sempat dinobatkan sebagai pemuda berprestasi oleh program Metro TV yaitu Kick Andy。 Yang mengherankan pula,setelah ia mengakui kesalahannya,ia masih ditampilkan sebagai sosok yang berpestasi oleh TV One。

4. Kasus plagiat nggito Abimanyu

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis(FEB)Universitas Gadjah Mada(UGM)Anggito Abimanyu mengundurkan diri sebagai d pada 17 Februari 2014.Ia dituduh melakukan plagiat di dalam opini tulisannya yang berjudul“Gagasan Asuransi Bencana”

Anggito pada saat itu juga menjabat sebagai Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama(Kemenag)。 Dosen lulusan PhD dari宾夕法尼亚大学itu kemudian meminta maaf kepada pihak-pihak yang dirugikan akibat kesalahannya。

Tuduhan ini bermula pada aduan seorang penulis di forum“Penulis UGM”。 Tuduhan tersebut menyatakan bahwa Anggito menjiplak tulisan Dosen Universitas Indonesia,Hotbonar Sinaga dengan judul“Menggagas Asuransi Bencana”pada 21 Juli 2006。

Demi mempertahankan kredibilitas institusi,Anggito kemudian mengundurkan diri dari UGM。 Ia mengakui kesalahannya dalam pencatutan referensi penulisan yang ia tulis dalam opininya pada 10 Februari 2014。

Dwi Hartanto berbohong soal kedirgantaraan dan jet tempur

Dwi Hartanto mahasiswa doktoral di sebuah universitas teknik di Belanda,yang bernama Technische Universitet(TU)Delft melakukan pembohongan publik yang cukup mengecewakan。 Lantaran ia mengklaim bahwa dirinya berprestasi di bidang kedirgantaraan dan roket di Belanda。

Ia mengklaim bahwa dirinya terkait dengan proyek卫星运载火箭,sebuah wahana peluncur satelit。 Bahkan ia juga sempat mengkalim bahwa dirinya memiliki paten bidang spacecraft technology。

Padahal studi S1​​ hingga S3 yang Dwi ambil,sama sekali tidak ada hubungannya dengan roket dan kedirgantaraan seperti jet tempur。 Walaupun pada Juli 2009 ia sempat menulis tesis yang berkaitan dengan sistem satelit,namun tidak memiliki keterkaitan langsung dengan roket atau dirgantara sebagaimana ia sampaikan sebelumnya。

Ironisnya,informasi mengenai deretan prestasinya telah dipublikasikan oleh media selama kurang lebih 1 tahun terakhir。 Bahkan sejumlah media telah menobatkannya sebagai“The Next BJ Habibie”,主持ke-3 RI yang masih aktif di dunia kedirgantaraan。

Untuk meyakinkan publik yang sedang berbangga hati karenanya,Dwi sempat memanipulasi foto yang ia bagikan di laman Facebook pribadinya。 Foto tersebut memperlihatkan Dwi membawa papan cek hadiah sebesar 15 ribu euro pada kompetisi antar badan antariksa luar angkasa(DLR)pada Juni 2017 di Jerman。

Tak hanya itu,ia juga berbohong mengenai tawaran Belanda untuk memintanya pindah kewarganegaraan。 Kemudian ia juga berbohong terkait kedekatannya dengan BJ Habibie。

Terbongkarnya kebohongan Dwi terkuak dari munculnya dokumen“Investigasi Mandiri”yang menolak mentah-mentah klaim prestasi Dwi selama ini。 Investigasi ini dilakukan oleh teman-teman dekat Dwi,Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional(I-4)dan PPI。

Bahkan sebelumnya,teman-teman terdekat Dwi sudah melakukan persuasif untuk menghentkan Dwi melakukan rentetan kebohongan ini。

Setelah kebohongannya terungkap,barulah Dwi merilis dokumen“Klarifikasi dan Permohonan Maaf”yang dirilis oleh situs resmi PPI Delft,ia secara rinci mengklairifikasi segala bentuk pembohongan yang selama ini ia beberkan ke media。

Konsekuensinya,Dwi sedang menjalankan sidang kode etik yang telah dimulai sejak 2017年9月25日di TU Delft,dan terancam sanksi akademis。 -Rappler.com