Pelempar bom molotov ke Gereja di Samarinda divonis penjara seumur hidup

2019-05-22 01:41:19 衡鬃 26
发布时间:2017年9月28日上午7:53
更新时间:2017年9月28日上午7:54

LOKASI LEDAKAN BOM。 Personel Brimob Polda Kaltim mengamankan lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene di Samarinda,Kalimantan Timur,pada 2016年11月13日。摄影oleh Amirulloh / ANTARA

LOKASI LEDAKAN BOM。 Personel Brimob Polda Kaltim mengamankan lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene di Samarinda,Kalimantan Timur,pada 2016年11月13日。摄影oleh Amirulloh / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Pelempar bom molotov ke Gereja Oikumene,Juhanda,dijatuhi vonis penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Senin,9月25日。 Majelis hakim menilai Juhanda terbukti bersalah melakukan aksi teror yang menewaskan balita berusia empat tahun dan tiga balita lainnya pada bulan 2016年11月。

Balita bernama Intan Olivia Marbun tengah bermain di area parkir gereja,ketika Juhanda melempar bom molotov ke tempat ibadah itu。 Luka bakar nampak menyelimuti tubuh kecilnya。

“Terdakwa telah terbukti bersalah melakukan sebuah aksi teror,”ujar Hakim Surung Simanjuntak di Pengadilan Negeri Jakarta Timur。

Jaksa penuntut umum mengatakan Juhanda berangkat menuju ke Gereja Oikumene dengan mengendarai sepeda motor。 Sejak awal,niatnya memang ingin melakukan serangan teror ke gereja tersebut。

Alih-alih aksinya sukses,Juhanda justru terjatuh dari sepeda motor。 Bom molotov yang semula ingin ia lempar ke dalam area gereja,justru meledak di area parkir ketika anak-anak berusia dua hingga empat tahun tengah bermain。

Juhanda kemudian berhasil ditangkap bersama empat orang lainnya。 Kelimanya diketahui merupakan anggota kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah(JAD),sebuah kelompok militan lokal yang terafiliasi dengan ISIS。 Sementara,salah satu rekan Juhanda,Joko Sugito juga divonis di hari yang sama。 Namun,hukumannya lebih ringan。 Ia divonis tujuh tahun penjara karena ikut serta dalam serangan tersebut。

Tiga terdakwa lainnya yang terlibat dalam kasus itu mendapat hukuman penjara antara enam tahun hingga enam tahun dan delapan bulan。

Ayah Intan,Anggiat mengaku sudah tidak lagi memendam dendam terhadap pelaku。 Baginya apa yang menimpa Intan sudah menjadi rencana dari Tuhan。

“Saya sudah ikhlas。 Ini adalah rencana dari Tuhan bagi keluarga saya,jadi biarkan lah hukum yang berlaku dan ditegakan oleh kepolisian,“katanya ketika dihubungi Rappler pada akhir 2016年11月。

Kendati sudah mengikhlaskan peristiwa tersebut,istri Anggiat yang bernama Diana mengaku masih trauma。

- dengan laporan AFP / Rappler.com

BACA JUGA: