Polemik tes keperawanan sebelum menikah,ini penjelasan Hakim Binsar

2019-05-22 08:43:12 赏疴 26
2017年9月10日下午2:31发布
2017年9月10日下午2:33更新

Sampul buku“Pandangan Kritis Seorang Hakim”Binsar Gultom。 FOTO oleh Gramedia.com

Sampul buku“Pandangan Kritis Seorang Hakim”Binsar Gultom。 FOTO oleh Gramedia.com

雅加达,印度尼西亚 - Hakim Binsar Gultom mendapatkan sorotan setelah ia mengusulkan agar mempelai perempuan menjalani tes keperawanan sebelum menikah。

Usulan tersebut terdapat dalam bukunya yang berjudul“Pandangan Kritis Seorang Hakim”.Hakim Binsar mengusulkan tes keperawanan sebelum menikah untuk menekan tingkat perceraian di Indonesia。

Namun Binsar mengatakan tes yang ia maksud bukanlah tes yang ditentukan oleh negara di mana setiap calon pengantin harus menjalani berbagai prosedur resmi。

Tes keperawanan,menurut Binsar,lebih ditujukan kepada keluarga yang akan melangsungkan pernikahan。 Orangtua,kata dia,harus memastikan apakah anak-anaknya akan menikah atas dasar ketulusan dan cinta,bukan karena menutupi aib。

“Sebelum melangkah lebih jauh,tanya'Apakah kalian sudah melakukan persetubuhan di luar nikah?',”kata Binsar saat pada Minggu,2017年9月10日。

Jika masih ragu,lanjut Binsar,orangtua bisa menindaklanjuti dengan melibatkan tim medis。 Dari sini,orangtua bisa memastikan keseriusan anak-anaknya。

Bila ada indikasi niat pernikahan dilandasi keterpaksaan,lebih baik jangan diteruskan。 “Lebih bagus sekarang tidak jadi atau dipending daripada dilanjutkan tetapi nantinya KDRT,perceraian atau pembunuhan,”kata Binsar。

Binsar mengtakan kecil kemungkinan tes keperawanan dilakukan sebelum menikah bisa diatur oleh negara karena itu hal yang sangat privat。 “Belum ada(negara yang mengatur tes keperawanan).Itu kan sangat privat,”katanya。

Dia juga mengusulkan adanya pelajaran mengenai rumah tangga di sekolah menengah atas atau di kampus agar calon penganten bisa lebih siap membina pernikahan di masa depan。

“Sebelum orang berumahtangga,harus tahu apa sih lembaga perkawinan.Masa UU Perkawinan tidak pernah dipelajari siswa atau mahasiswa?(UU)Baru digunakan setelah terjadi perceraian padahal itu harus dipelajari,”katanya。 -dengan laporan ANTARA / Rappler.com

Baca juga: