印度尼西亚siap bantu孟加拉国atasi krisis pengungsi

2019-05-22 08:46:17 魏淹 26
2017年9月6日下午12:30发布
2017年9月6日下午12:30更新

KEMANUSIAAN。 Menteri Luar Negeri Retno Marsudi(kiri)tengah berbincang dengan Menlu孟加拉国Abul Hassan MA di Dhaka pada Selasa,9月5日untuk membicarakan pengungsi Rohingya yang membanjiri perbatasan孟加拉国 - 缅甸。 Foto:Kementerian Luar Negeri

KEMANUSIAAN。 Menteri Luar Negeri Retno Marsudi(kiri)tengah berbincang dengan Menlu孟加拉国Abul Hassan MA di Dhaka pada Selasa,9月5日untuk membicarakan pengungsi Rohingya yang membanjiri perbatasan孟加拉国 - 缅甸。 Foto:Kementerian Luar Negeri

雅加达,印度尼西亚 - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akhirnya tiba di Bangladesh pada Selasa,9月5日usai sebelumnya melakukan pertemuan dengan beberapa pejabat di Myanmar。 Sama seperti di Myanmar,Retno menyampaikan pesan Presiden Joko“Jokowi”Widodo bahwa Indonesia siap membantu untuk meringankan beban Pemerintah孟加拉国mengatasi pengungsi。

数据dari PBB menyebut 123 ribu pengungsi dari缅甸sudah masuk ke孟加拉国akibat tindak kekerasan di negara bagian Rakhine pada 25 Agustus lalu。 Retno kemudian mendapatkan gambaran kondisi pengungsi secara langsung dari beberapa pejabat di Bangladesh antara lain Menlu,wakil UNHCR,IOM dan Perdana Menteri Sheikh Hasina。

“Saya menyampaikan simpati Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah孟加拉国karena jumlah pengungsi yang harus diterima cukup banyak。 Oleh karena itu,saya menyampaikan amanah dari Presiden bahwa Indonesia menawarkan dukungan dan kontribusi bagi Bangladesh untuk mengurangi beban pemerintah dalam menangani krisis kemanusiaan ini,“ujar Retno di Dhaka pada Selasa malam,9月5日。

Retno mengaku bersykur karena niat baik印度尼西亚disambut secara positif oleh Pemerintah孟加拉国。 Apalagi pertemuan tersebut dilakukan di tengah-tengah libur perayaan Iduladha di sana。

Setelah menyampaikan niat tersebut,kemudian hasilnya akan dtindak lanjuti oleh Duta Besar Indonesia di Bangladesh。 Sebab,Bangladesh perlu mengidentifikasi apa saja kebutuhan yang diperlukan oleh para pengungsi yang notabene adalah warga etnis Rohingya。

Selain itu,Retno sempat membicarakan isu-isu lainnya yang masih tertunda namun diperlukan untuk mengatasi krisis kemanusiaan ini。 Isu tersebut menyangkut manajemen perbatasan。

印度尼西亚,katanya,kembali memainkan peran agar komunikasi antara孟加拉国 - 缅甸berjalan positif。

“Sebab,jika komunikasi di antara kedua negara tidak dikelola dengan baik,maka sulit bagi mereka mengelola isu perbatasan,”kata dia。

Maraton kemanusiaan

Dalam kesempatan itu,Retno mengakui apa yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia bukan merupakan hasil yang instan。 Dibutuhkan hubungan baik yang sudah dijalin antara Indonesia dengan缅甸丹孟加拉国sebagai modal untuk dapat berkomunikasi dengan keduanya。

Pemerintah Indonesia menghindari penggunaan“megaphone diplomacy”dengan cara mengecam komunitas tertentu di Myanmar。 Alih-alih,pemerintah menggunakan pendekatan kemanusiaan untuk langsung memberi bantuan kepada etnis Rohingya yang menjadi minoritas di Rakhine State。 Upaya yang sudah berlangsung sejak satu tahun lalu telah menghasilkan bantuan di bidang ekonomi,pendidikan dan sosial。

印度尼西亚sudah membangun enam sekolah dan satu rumah sakit di Myanmar。 Bahkan,Retno ikut berkunjung ke Rakhine State pada 20-22 Januari lalu dan menemui berbagai pihak。

“Sepanjang perjalanan saya dari缅甸ke孟加拉国,saya menyebutnya'马拉松为人类'。 Saya sudah melakukan banyak komunikasi sebelum bertolak ke缅甸。 Sebab,untuk menjawab permasalahan yang kompleks seperti ini,kita perlu berbicara dengan banyak pihak,“kata dia。

Retno sudah berbicara dengan mantan Sekjen PBB Kofi Annan,Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres,Menlu Bangladesh,Abul Hassan MA,Penasihat Keamanan Nasional Myanmar U Thaung Tun dan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu。

Bahkan,sepanjang perjalanan untuk menuntaskan misi kemanusiaan tersebut,Retno sempat menerima telepon dari beberapa Menlu yakni Menlu Belanda,Menlu Inggris dan Menlu Iran。 Sedangkan,Retno turut mengajak komunikasi dengan semua Menlu dari negara-negara ASEAN untuk ikut memberi dukungan。

“Pada intinya,mereka mendukung upaya kemanusiaan yang tengah dilakukan Indonesia,”kata Retno。

Sementara,saat bertemu dengan pejabat缅甸,termasuk Aung San Suu Kyi,mantan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda itu menyampaikan建议“4 + 1”sebagai cara mengatasi krisis di Myanmar。 建议“4 + 1”terdiri dari mengembalikan stabilitas dan keamanan,tidak menggunakan kekerasan,perlindungan terhadap semua orang di Rakhine State,dibukanya akses bantuan kemanusiaan dan implementasi rekomendasi dari Komisi Penasihat untuk Rakhine State,Kofi Annan。 - Rappler.com